Sabtu, 19 September 2015

Dari Aku, yang tak Pernah Bisa Memiliki Namun tetap Menyimpan Perasaan Padamu

Dari Aku, yang tak Pernah Bisa Memiliki Namun tetap Menyimpan Perasaan Padamu

“Sekarang aku tahu kenapa orang-orang berkata bahwa air mata seorang pria mahal harganya.”

Aku ingin bertanya pada dunia, ketika mereka berkata bahwa perbedaan itu sangat indah, perbedaan diperlukan untuk saling melengkapi, perbedaan itu membuat duniamu lebih berwarna, mengapa hal itu tidak berlaku untuk diriku?

Kalau perbedaan itu memang sangat indah, disediakan Tuhan untuk kita berdua, namun kenapa sekarang tanganku hanya menggenggam angin kosong?

Kalau perbedaan itu ada untuk saling melengkapi, kenapa hal tersebut malah memperlebar jarak kita berdua?

Kalau perbedaan ada untuk membuat dunia lebih berwarna, kutegaskan padamu bahwa duniaku kini kelabu.

Masih ingatkah kamu saat pertama kali Tuhan mempertemukan kita? Ketika perbedaan menjadi pijakan yang membuat kita semakin tertarik satu sama lain? Perasaan itu tiba-tiba tumbuh tanpa kusadari dan jujur, aku takut kehilanganmu setelah nyaman menghabiskan hari-hari bersamamu. Mungkin kenyamanan itu yang membuatku kehilanganmu, mungkin aku terlalu lama mendekam di sana hingga tidak sadar, suatu saat aku akan melihat punggungmu dan tidak akan pernah kembali menatap wajahmu.

Lagi-lagi, aku menyalahkan perbedaan. Pada awalnya kita menghadapi perbedaan dengan hal bernama toleransi. Berjanji akan berjuang mempertahankan hubungan ini hingga kita berdua tak mampu menanggungnya lagi. Tapi, kini kita berdua harus hancur karena perbedaan itu. Aku tidak sadar bahwa kamu lelah berlari, ketika semangatku masih menggebu-gebu untuk berjuang mengarungi perbedaan kita.

Apakah aku salah bila aku menyalahkan kita yang begitu berbeda? Aku tidak berharap waktu dapat kuputar kembali karena memang hal tersebut mustahil dilakukan. Kalaupun orang-orang berharap seperti itu, mereka hanya ingin mengulang manisnya kenangan bersama orang terkasihnya. Dulu. Aku tidak ingin mengulangi hal-hal manis bersamamu karena aku tahu, kamu juga akan menanggung sakit yang sama. Lagi.

Saat pertama kali bertemu denganmu, jujur saja aku sadar kita tidak bisa bersama. Masih ingatkah, kamu yang meyakinkanku bahwa kita layak memperjuangkan hubungan ini bersama. Tapi ternyata, kita berdua terus tergores dan terluka ketika berlari. Mungkin aku kuat menahan sakitnya, tapi sayangnya ternyata kamu sudah tak mampu. Jadi, kini aku akan merelakan diriku melihat punggungmu dan melihatmu menjauh dariku. Melihat ada lelaki lain yang akan menggenggam tanganmu. Melihat ada lelaki lain yang jadi ksatriamu. Melihat lelaki lain akan membuatmu tersenyum, seperti yang kulakukan dulu. Setiap hari.

Tidak akan ada lelaki lain yang akan mencintaimu seperti aku mencintaimu. Tapi aku percaya, pasti ada lelaki lain yang akan mampu membuatmu spesial dan berharga sebagai seorang perempuan. Ada lelaki lain yang akan menjadi tempatmu berteduh saat dibutuhkan. Akan ada lelaki yang akan menyediakan pundaknya ketika air matamu tidak bisa berhenti mengalir. Akan ada lelaki yang pasti kuat berjuang denganmu, mungkin menggendongmu ketika kamu lelah berlari. Bukan seperti diriku yang menyalahkan perbedaan, perbedaan yang terlalu besar.

Kamu akan selalu ada di sana, di pojok hatiku yang terdalam, karena kamu terlalu berharga untuk dilupakan. Bahkan otak dan hati ini sepakat tidak ingin menghapusmu dari hidupku. Kini saatnya aku mengucapkan kata yang tidak ingin kuucapkan sejak aku sadar telah jatuh hati padamu. Dua kata yang kukunci dan kubuang jauh-jauh saat canda dan tawa masih jadi harta kita berdua.

Selamat tinggal.

Satu hal yang tidak kuingini saat kita berjumpa, aku tidak ingin melihat bekas luka yang kembali terbuka di matamu. Aku ingin kamu bahagia, walaupun bukan aku lagi yang membuatmu bahagia. Aku ingin kamu menghargai kebersamaan kita sebagai sebuah pelajaran berharga. Karena cinta itu tidak egois, ada kalanya satu pihak harus rela mundur karena pihak lain sudah tidak kuat berjuang. Biar kali ini aku yang mundur dan merelakanmu pergi.

Aku akan selalu di sini, aku yang tidak akan pernah bisa memiliki namun tetap menyimpan perasaan padamu

Tolong Izinkan Saya Berzina dengan Anak Bapak

"Tolong Izinkan Saya Berzina dengan Anak Bapak"
(1/2)

Artikel Yang Frontal Tapi Syarat Akan Makna

Kisah Atau Realita Yang Sering Terjadi sekitar kita

Suatu hari sepasang muda-mudi akan pergi untukberjalan-jalan. Setibanya pemuda di rumah orang tua sang gadis untuk menjemputnya.

Gadis: Masuk dulu ya, bertemu sama ayah

Pemuda : Boleh kah?

Gadis: Masuk saja, saya bersiap-siap dulu.

Masuklah sang pemuda melalui pintu utama. Pintu yang siap terbuka mengelu-elukan kedatangan si pemuda.

Pemuda : Assalamualaikum.

Ayah Gadis : waalaikumussalam!

Mendengar lantangnya suara Ayah si gadis, si pemuda kaku membatu. Lantas si gadis menyadarkan pemuda dari lamunan itu. Entah apa yang dipikirkannya.

Gadis : Mari, silahkan duduk

Pemuda : eh.,iyaa

Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, duduklah si Pemuda di kursi yang hampir menghadap Ayah si gadis. Hanya koran yang menjadi ‘sitroh’ antara mereka.

Ayah Gadis : hendak jalan kemana hari ini?

Pemuda : ke Kota saja Pak, dia mau mencari barang katanya. entah barang apa saya tidak tahu.

Ayah Gadis : oh..

Pemuda : . . .

Hampir 5 menit suasana senyap tanpa suara. Dan ibu si gadis keluar dari ruang belakang membawa air dan kue kering. Si Pemuda pun tersenyum manis.

Ibu Gadis : Silahkan diminum dulu nak. Kamu sudah sarapan?

Pemuda : eh, Sudah Bu. Terima kasih.

Ibu Gadis : kamu ini malu-malu segala dengan kami.

Pemuda : saya hanya segan Bu. Hehe

Ayah Gadis : kapan kamu mau mengirim rombongan (lamaran)?

Ibu Gadis : eh, ayah ini?

Pemuda : hmm. Saya belum memiliki banyak uang Pak. Hehe

Ayah Gadis : kamu bawa anak kami kesana-kemari. Apa orang kata nanti?

Pemuda: (sebenarnya Malu dengan orang lain, serta malu dengan Allah). Setiap kami pergi kami selalu naik mobil Pak, tidak pernah berdekatan apalagi sampai bergandeng tangan. Oh iya, bisa saya tanya sedikit Pak?

Ayah Gadis : tentu saja, silahkan!

Pemuda : bapak dan ibu ingin saya menyediakan uang berapa untuk lamaran ini?

Ibu Gadis : kalau bisa Rp.20.000.000,-

Ayah Gadis : ehh, tapi kalau bisa lebih besar dari orang sebelah yang naksir juga sama gadis.

Pemuda : Maaf, Berapa itu Bu?

Ayah Gadis : Rp.40.000.000,- syukur-syukur bisa lebih

Pemuda : (Ya Allah, whhooa.. Rp.40.000.000,- darimana saya dapat uang sebanyak itu, aduh) Besar sekali Pak, apakah tidak bisa lebih sedikit, kita buat acara sederhana saja. Cukup mengudang keluarga, saudara dan tetangga dekat?

Ayah Gadis : itu nasib kamu nak, kamu yang akan menikahi anak kami. Lagipula dialah satu-satunya anak perempuan kami.

Si Pemuda pun hampir hilang akal ketika disebutkan ‘harga’ si gadis itu. Dan si Pemuda mencoba kembali berdiskusi dengan orang tua gadis pujaan hatinya.

Pemuda : Boleh saya bertanya lagi, apakah anak bapak pandai memasak?

Ayah Gadis : hmm,.boro-boro. Bangun tidur saja jam 10 lebih, bukan bangun pagi lagi itu. Habis bangun terus langsung makan siang.

Ibu Gadis : Apa sih ayahnya ini, anaknya mau dijadikan istri, dia malah cerita yang jelek-jelek.

Ayah Gadis : Ibunya pun sama suka terlambat bangun juga.

Ibu Gadis : ih ayah ini!

Pemuda: (bengong) Ehh.. iya cukup pak,

sekarang saya sudah tau. Kalau boleh bertanya lagi, bisa kah dia membaca Qur’an?

Ibu Gadis: bisa sedikit-sedikit kok

Pemuda : belajar dengan maknanya?

Ibu Gadis : mungkin.

Pemuda : hmm.

Ibu Gadis : kenapa?

Pemuda : Oh, tidak apa apa bu. Pertanyaan terakhir, apakah dia rajin sholat?

Ayah Gadis : Apa maksud kamu tanya semua ini !? Dia kan dekat dengan kamu. Harusnya kamu juga tahu.

Pemuda : Setiap sedang diluar dan saya ajak sholat, dia selalu bilang sedang datang bulan. Sedikit sedikit datang bulan. Saya jadi bingung, sebenarnya dia bisa sholat tidak.

Ayah dan Ibunya begitu kaget. Dan pada wajahnya begitu kemerahan menahan amarah.

Pemuda : Boleh saya sambung lagi. Dia tak bisa masak, tak bisa sholat, tak bisa mengaji, tak bisa menutup aurat dengan baik. Sebelum dia menjadi istri saya, dosa-dosanya juga akan menjadi dosa bapak dan ibu. Lagipula tak pantas rasanya dia dihargai Rp.40.000.000,-. Kecuali dia hafidz Qur’an 30 juz dalam kepala, pandai menjaga aurat, diri, dan batasan-batasan agamanya. Barulah dengan mahar Rp.100.000.000,pun saya usahakan untuk membayar.
Tapi jika segala sesuatunya tidak harus dibayar mahal mengapa harus dipaksakan untuk dibayar mahal ? Seperti halnya mahar. Sebab sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar. Mata ayah si gadis direnung tajam oleh mata ibu si gadis. Keduanya diam tanpa suara.

Sekarang ketiganya menundukkan kepala. Memang sebagian adat menjadikan anak perempuan untuk dijadikan objek pemuas hati menunjukkan kekayaan dan bermegah-megah dengan apa yang ada, terutama pada pernikahan. Adat budaya mengalahkan masalah agama. Para orang tua membiarkan bahkan menginginkan anak perempuan dihias dan dibuat pertunjukkan di muka umum.

Sedangkan pada saat akad telah dilafadz oleh suami, segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami.

Ayah Gadis : tapi kan, ayah hanya ingin anak ayah merasakan sedikit kemewahan. Hal seperti tu kan hanya terjadi sekali seumur hidup.

Pemuda : Bapak ingin anak bapak merasakan kemewahan?

Ibu Gadis : tentulah kami berdua pun turut gembira.

Pemuda : sungguh demikian ? boleh saya sambung lagi? bapak, ibu.. saya bukanlah siapa siapa. Sekarang dosa anak Bapak, Bapak juga yang tanggung. Esok lusa setelah akad nikah terus dosa dia saya yang tanggung.

Belum lagi pasti bapak dan ibu ingin kami bersanding lama di pelaminan yang megah, anak Ibu dirias dengan riasan secantik-cantik nya dengan make up dan baju paling mahal, di hadapan ratusan undangan agar kami terlihat mewah pula. Salain setiap mata yang memandang kami akan mendapat dosa. Apakah begitu penting hal tersebut jika dalam kehidupan sehari-hari kita malah berusaha untuk hidup sesederhana mungkin tanpa berlebih-lebihan.

Ibu si gadis segera mengambil langkah mudah dengan menarik diri dari pembicaraan itu. Si ibu tahu, si pemuda berbicara menggunakan fakta islam. Dan tidak mungkin ibu si gadis dapat melawan kata si pemuda itu.

Ayah Gadis : Kamu mau berbicara mengajari masalah agama di depan kami?

Pemuda : ehh. maaf pak. Bukan saya hendak berbicara / mengajari masalah agama. Tapi itulah hakikat. Terkadang kita terlalu memandang pada adat sampai lupa agama.

Ayah Gadis : sudah lah. Kamu sediakan Rp.40.000.000,- kemudian kita bicarakan lebih lanjut. Kalau tidak ada, kamu tak bisa kimpoi dengan anak ku!

Pemuda : Semakin lama lah hal itu. Mungkin di umur saya 30 atau lebih, saya baru bisa mengumpulkan uang tersebut dan bisa masuk meminang anak bapak.

Baiklah, .kalau memang bapak berharap tetap demikian, maka ’izinkan saya berzina dengan anak bapak’?

Ayah Gadis : hei! Kamu sudah berlebihan!, kamu jaga baik-baik omongan kamu itu.

Pemuda : dengar dulu penjelasan saya pak. Apa bapak tahu alas an orang berzina dan banyak orang memiliki anak di luar nikah? Sebab salah satunya hal seperti ini lah pak. Selalu saja orang tua perempuan menempatkan puluhan juta rupiah untuk mahar, harus menunggu si pria mempunyai pekerjaan dengan gaji begitu tinggi, sampai pihak pria terpaksa menunda keinginan untuk menikah. Tetapi cinta dan nafsu kalau tidak diwadahi dengan baik, setan yang jadi pihak ketiga untuk menyesatkan manusia.

Terlebih di zaman seperti ini yang cobaan dan kondisinya tidak seperti zaman bapak dan ibu dulu. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas memuaskan nafsu serakah dengan berzina. Pertama memang hal yang ringan-ringan dulu pak, pegang-pegangan tangan, saling memeluk, dan sebagainya. Tapi semakin lama akan menjadi hal berat. Yang berat-berat itu bapak sendiri pun bisa membayangkan.

Ayah Gadis : lantas apa kaitan kamu dengan hendak berzina pula !?

Pemuda : Begini logikanya. Sepertinya yang terjadi dengan anak-anak lainnya. Bapak tidak memberi izin kami menikah sekarang, biar ada berpuluh juta uang dulu baru bisa menikah.

Kami hendak melepaskan nafsu bagaimana pak? setiap harinya kami mengenal lebih dekat dan semakin dewasa. Dia meminta saya menengoknya, semakin cinta saling melepas rasa rindu. Susah pak, itu Nafsu yang diberikan kepada manusia. Sebab itu saya dengan rendah hati meminta izin pada bapak untuk berzina dengan anak bapak. Terlepas apakah yang penting bapak tahu saya dan dia hendak berzina. Sebab rata-rata orang yang berzina itu orang tua tidak tau pak, tidak. Kelihatannya pemuda -pemudi zaman sekarang biasa-biasa saja padahal sebenarnya sudah pernah bahkan sering berzina. Ironisnya banyak orang menganggap hal itu tidak tabu lagi. Berzina bukan saja hal yang ehem-ehem saja. Ada zina-zina ringan, zina mata, zina lidah, zina telinga dll. Tapi sebab hal ringan itu lah yang akan menjadi berat.

Ayah Gadis : hmm. Kamu ini begitu pelik dan memperumit saja. Beruntung kamu bukan orang lain. Kalau orang lain, sudah dari tadi saya angkat parang. Begini nak, Tapi kalau tidak ada uang, bagaimana kamu akan memberi dia makan??

Pemuda : hehe. Bapak. lupakah Bapak dengan apa yang telah Allah pesankan pada kita.

“Dan menikahlah orang-orang bujang (pria dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang sholeh dari hamba-hamba kamu, pria dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka. sesungguhnya karunia Allah Maha luas (rahmat dan karunianya), lagi Maha Mengetahui.” (An Nur 32).

Apakah kita tak yakin dengan apa yang Allah janjikan. Bapak dan Ibu juga pernah lah menjadi muda. Masalah datangnya harta, selagi kita terus berusaha itu adalah Rahmat-Nya yang sudah ditakdirkan pada tiap-tiap hamba-Nya. Lagipula pak, kalau makan dan minum itu Insya Allah, saya sanggup untuk memberikannya. Tempat tinggal bisa kita bicarakan lagi. Kalau hal ini bisa menghalangi kami dari melakukan dosa dan sia-sia. Apakah tidak lebih baik disegerakan. Bapak pun tak mau hal-hal tak tidak diinginkan terjadi.

Bapak si Gadis Diam tanpa kata, merenung kata – kata si pemuda, berusaha memikirkan cara untuk mematahkan kata-kata si Pemuda. Dan ayah si gadis mendapat akal.

Ayah Gadis : kamu tahu lah zaman sekarang ni. Kalau mengikuti cara kamu itu. Mungkin kamu tidak suka dengan acara persandingan yang mewah, Bapak bisa terima. Tapi kamu apa bisa menerima apa yang akan orang-orang katakan. Orang akan mengatakan anak aku ‘kecelakaan’ dan terpaksa menikah dengan kamu. Mau ditaruh dimana muka ini.

Pemuda : bagus juga pikiran bapak itu. Kalau ‘kecelakaan’ mana mau saya menikahi anak bapak. Karena akan selamanya menjadi haram, orang yang zina tidak akan pernah menjadi halal sekalipun dengan pernikahan. Kalau bapak memaksa ya sudah. Bisa ikut nikah masal kan bagus juga bisa berhemat tapi tetap ramai.

Ayah Gadis : serius lah nak!

Pemuda : begini pak, sekali lagi rasanya tidak perlu membayar puluhan juta dan mahar yang berlebihan sehingga memaksa diluar kemampuan. Tapi saya tak mengatakan tidak ada walimatul urus. Sedang walimatul urus itu tetap perlu dan disesuaikan dengan kemampuan. itu cara islam. Saya bukan hendak macam-macam dengan bapak. Syariat memang seperti itu. Maha baiknya Allah sebab masih menjaga kita selama ini, tapi hal sepele seperti ini pun kita masih memandang ringan dan kita tak percaya dengan apa yang telah Allah janjikan.

Saya benar-benar minta maaf kalau ada kata-kata saya yang membuat bapak tidak senag terhadap saya. Tidak juga bermaksud tidak takdzim dengan bapak dan ibu. Segalanya kita serahkan pada Allah, kita hanya bisa merencanakan saja.

Azan dzuhur berkumandang, jaraknya tidak sampai 10 rumah dengan rumah si gadis. Si pemuda memohon untuk ke surau dan mengajak bapak si untuk pergi bersama. Namun ajakan ditolak dengan lembut. Lantas sang pemuda memberi salam dan memohon untuk keluar.

Di pinggir jendela tua si gadis melihat si pemuda mengeluarkan kopiah dari sakunya dan segera di pakainya. Lalu masuk mobil dan hilang dari penglihatan si gadis tadi.

Sedang si gadis yang sedari tadi berdiri di balik tirai bersama ibunya meneteskan air mata mendengar curahan kata-kata si pemuda terhadap ayahnya. Kerudung lebar pemberian si pemuda sebagai hadiah padanya yang lalu digenggam erat. Ibu si gadis juga meneteskan air mata melihat pada perilaku anaknya. Segera ibu dan si gadis ke ruang tamu menghadap ayahnya.

Ibu Gadis : Apa yang anak itu katakan benar. Kita ini tak pernah memperhatikan syariat-syariat ringan agama selama ini. Terlalu melihat dunia, adat dan apa kata orang. Padahal mereka tak pernah juga peduli pada kita.

Ayah Gadis : hmm.. entahlah, ayah tak tahu. Begitu keras yang anak itu katakan tadi. Dia berpesan tadi, kamu suruh bersiap, lalu setelah dzuhur dia jemput kamu.

Gadis : sudah tidak ada semangat untuk pergi ayah. Kemudian si gadis menggapai telepon genggamnya dan mengetik pesan.

Si Pemuda yang selesai mengambil wudhu tersenyum saat membaca pesan yang baru saja diterima dari si gadis,

“Andai Allah telah memilih dirimu untukku, aku ridho dan akan terus bersama mu, apapun yang ada pada dirimu dan yang kamu miliki, aku juga akan terus pada agama yang ada padamu. Siang ini ga ada mood untuk keluar, maaf. Minggu depan ayah menyuruh kirim rombongan (lamaran) untuk ke rumah.“

*

Terkadang kisah seperti diatas masih saja sering terjadi. Wahai kalian pemuda dan pemudi yang dirahmati Allah, jika kalian merasa telah mampu dan yakin untuk menikah. maka segerakanlah. Sungguh- sungguh merugi orang yang menunda-nunda terhadap rahmatnya Allah.

Like & shared ya teman2, sebagai pengingat teman kamu yang sudah mampu agar menyegerakan pernikahannya :).
Semoga kita termasuk dalam golongan org2 yg dirahmati Allah. Aamiin.

Rabu, 16 September 2015

bunga mawar

Kisah Motivasi inspiratif – Bunga mawar

Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.

Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.

Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, “Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini.”

Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.

Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada ‘mawar’ yang tertanam. Tuhan yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Tuhan lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.

Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat “duri” yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk menyirami” hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki.

Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.

Jika kita bisa menemukan “mawar-mawar” indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya akan membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.

Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan “mawar-mawar” ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.

Biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita (lifeblogid)

Minggu, 13 September 2015

temen ..

TEMEN?

Mungkin maksud lo yang dateng pas ada maunya doang .
Sombong pas ada diatas , pas dibawah deket2 kita biar dia naik lagi .
Manfaatin kita seenak jidat.
Ngerebut kebahagiaan lo!
Ngehasut org lain biar benci sama lo.
Temen itu ga ada yg bener . Temenan sm kita cuma untuk manfaatin . Haha!
Mati lu semua yg ngakunya temen tapi datengnya pas butuh doang!!!
Haha.

True?  ��

Inspirasi - Ketika Bob Sadino dikira tukang sampah di gedung kantor miliknya

Inspirasi - Ketika Bob Sadino dikira tukang sampah di gedung kantor miliknya

Ini merupakan kisah nyata yang dialami Bob Sadino yang dikira tukang sampah oleh seorang wanita yang sedang duduk-duduk di taman pribadi yang terletak di gedung perkantoran miliknya.

Kita semua tau bahwa Bob Sadino adalah orang yang berpenampilan sangat sederhana dan terkenal dengan ciri khasnya yang selalu mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek, bahkan ketika bertemu dengan presiden maupun pejabat negara sekalipun.

Berikut ini kisah nyata Bob Sadino yang sangat menginspirasi.

Kisahnya

Suatu pagi, terlihat seorang wanita berpenampilan menarik berusia 40an membawa anaknya memasuki area perkantoran sebuah perusahaan terkenal.

Karena masih sepi, mereka pun duduk di taman samping gedung untuk sarapan sambil menikmati hamparan hijau nan asri.

Selesai makan, si wanita membuang sembarangan tisu bekas pakai.

Tidak jauh dari situ, ada seorang kakek tua berpakaian sederhana memegang gunting untuk memotong ranting. Si kakek itu menghampiri dan memungut sampah tisu itu, membuangnya ke tempat sampah.

Beberapa waktu kemudian, kembali wanita itu membuang lagi tanpa rasa sungkan, kakek itu pun dengan sabar memungut dan membuangnya ke tempat sampah.

Sambil menunjuk ke arah sang kakek, si wanita itu lantang berkata ke anaknya,”Nak, kamu lihat kan, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu, kerjanya mungutin dan buang sampah! Kotor, kasar, dan rendah seperti dia, Jelas, ya?”

Si kakek meletakkan gunting dan menyapa ke wanita itu, “Permisi, ini taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk kesini ?” Wanita itu dengan sombong menjawab, “Aku adalah calon manager yang dipanggil oleh perusahaan ini.”

Di waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sangat sopan dan hormat menghampiri sambil berkata, ”Pak Presdir, hanya mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai.”

Sang kakek mengangguk, lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita itu, dia berkata tegas, “Manager, tolong untuk wanita ini, saya usulkan tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun di perusahaan ini.”

Sambil melirik ke arah si wanita, si manager menjawab cepat, “Baik Pak Presdir, kami segera atur sesuai perintah Bapak.”

Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek mengulurkan tangan membelai kepala si anak, “Nak, di dunia ini, yang penting adalah belajar untuk menghormati orang lain, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah".

Si Wanita tertunduk malu, tanpa berani memandang si kakek. Kakek itu adalah Bob Sadino, yang kedudukannya adalah Presiden Direktur di perusahaan tersebut.

Pelajaran penting dari cerita ini

Hargailah setiap orang yang anda temui, walaupun penampilan mereka biasa-biasa saja. Penampilan seseorang belum tentu (bahkan seringkali) menggambarkan kedudukan sosialnya.

Jangan pernah menghina orang yang kondisi keuangannya di bawah anda, karena suatu saat orang tersebut bisa saja berada di atas anda. Setiap orang layak untuk dihargai, terlepas dari kedudukan, suku, agama dan kondisi keuangannya.

Semoga postingan ini bisa menginspirasi anda menjadi manusia yang lebih baik lagi.

cinta pertama


Fakta Sesungguhnya Tentang Cinta Pertama

By Admin |
Sebenarnya apa sih makna dari cinta pertama itu? Apakah rasa cinta yang pertama kali hadir di dalam hati kita untuk seseorang ataukah saat dimana kita jadian untuk yang pertama kalinya di dalam hidup?

Sampai saat ini, dua jawaban diatas masih belum dapat ditarik kesimpulan mana yang lebih tepat untuk diartikan sebagai makna dari cinta pertama. Jadi, untuk sementara kita anggap keduanya adalah jawaban yang benar. Banyak orang memiliki anggapan bahwa cinta pertama adalah cinta yang paling besar. Apakah anda setuju dengan anggapan tersebut, apakah anda satu pendapat dan percaya jika tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta pertama?

Jika anda menjawab setuju, mohon maaf karena saya termasuk orang yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Cinta pertama boleh jadi cinta tak terlupakan yang pernah hadir dalam hidup kita, namun hal tersebut tak menutup kemungkinan jika cinta ke 2, 3, 4 dan seterusnya memiliki kisah yang lebih dahsyat dari cinta pertama. Semakin dahsyat kisah cinta yang dialami oleh seseorang, maka semakin dalam bekas luka ketika mereka ternyata harus ditakdirkan untuk saling berpisah, begitu pula dengan kesan mendalam yang diakibatkannya.

Sekarang, apakah anda setuju jika cinta semacam itu dikatakan lebih hebat daripada cinta pertama yang dahulu pernah anda lewati saat pertama kali mengenal asmara? Faktanya, cinta pertama belum tentu merupakan cinta terindah yang pernah terjadi di dalam hidup, namun tentu saja, tanpa cinta pertama tak akan ada cinta kedua dan seterusnya. Jika ada pertanyaan, siapakah cinta keempat anda? saya yakin anda akan kesulitan menjawabnya, namun ketika anda diberi pertanyaan tentang siapa cinta pertama anda? maka dengan mudah anda akan mengingat orang tersebut.

Itulah keistimewaan cinta pertama, sang mantan kekasih dengan berbagai kisah yang pernah dialami bersama masih begitu mudah untuk diingat. Saat itu merupakan tahap dimana seseorang mengenal diri sendiri dan orang lain dari hati ke hati, merasakan pengalaman pertama tentang perasaan cinta dan belajar menjadi seseorang yang berpikir lebih dewasa karena dituntut tak hanya peduli terhadap diri sendiri namun juga orang lain yang tak bukan adalah kekasih pertamanya tersebut.

Ketika pasangan mengikrarkan tali percintaan, sayangnya, salah satu dari pasangan terkadang bukanlah cinta pertama dari pasangan lainnya. Akan lebih romantis jika kedua pasangan merupakan cinta pertama antara satu sama lain. Mengapa demikian, karena saat itu terjadi sebuah pembelajaran antara kedua insan manusia yang sedang dimabuk cinta. Hal – hal konyol dan tidak masuk akal terlebih akan menghiasi perjalanan cinta mereka.

Menurut saya, cinta pertama memang bukanlah cinta terindah, bukan pula cinta paling hebat yang pernah dialami oleh seseorang di hidupnya, namun cinta pertama merupakan cinta paling suci dimana itulah sebenar – benarnya terjadi dua orang saling mencintai, tak ada hasrat lain terselubung selain perasaan cinta dan cinta..

Mereka tidak memikirkan nafsu, tidak peduli harta dan tidak mengenal tahta, mereka hanya ingin mencintai pasangannya siang dan malam. Sebenarnya saya pribadi tidak begitu setuju dengan istilah cinta monyet dalam cinta pertama, bagaimana mungkin cinta suci dan tulus dengan penuh kepolosan yang ada diibaratkan dengan binatang seperti monyet. Sungguh ungkapan yang sangat tidak relevan.

Sabtu, 12 September 2015

ciri dia selingkuh

Curiga Dia Selingkuh?

1.Kekasih Semakin Perhatian

Bila kekasih kita tiba-tiba memberi perhatian lebih dari sebelumnya pada kita, ini patut dicurigakan. Karena bisa jadi sang kekasih sedang menutupi perselingkuhannya, ia coba melakukan trik ini agar Anda tidak curiga. Biasanya kekasih seperti ini memang masih mencintai Anda tapi dia juga menyukai selingkuhannya. Maka itu dia memberi perhatian lebih pada Anda agar Anda tidak hilang dari pelukannya. Untuk mengantisipasinya, baiknya Anda tanyakan kenapa dia jadi begitu sangat perhatian dan bila jawabannya tidak nyambung atau tidak masuk akal, bisa dipastikan kekasih Anda sedang selingkuh.

2.Pacar Anda Menghubungi Anda Secukupnya Saja

Yang satu ini bertolak belakang dengan tips pertama, bila tips pertama kekasih Anda sangat perhatian. Untuk tips kedua ini kekasih Anda hanya menghubungi Anda cuma sekedarnya. Contohnya biasanya ia menghubungi Anda melalui telpon atau SMS sehari empat kali, tapi tiba-tiba dia hanya menghubungi Anda sekali dalam sehari dan bila membalas SMS atau menjawab telpon Anda terkesan cuek dan malas dan tidak seperti dulu lagi. Ini dikarenakan kekasih Anda sudah jenuh dengan Anda. Biasanya ini sinyal seorang kekasih yang ingin meminta putus dan mungkin sudah ada kekasih lain yang menggantikan Anda.